Indonesia: Banjir Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan, Laporan Akhir Kegiatan DREF n ° MDRID017 – Indonesia

A. Analisis situasi

Interpretasi bencana

Kabupaten Melavi, Kalimantan Barat

Sungai Melavi dan Pino yang merupakan anak sungai Kabuas meluap di bagian barat Kalimantan akibat hujan deras. Sembilan kecamatan di Kecamatan Melawi, Chokan, Dhana Pino, Sion, Menukung, Ella Hilir, Pino Celaton, Pino Utara, Nanga Pino dan Pelimping terendam banjir. Banjir telah menggenangi wilayah tersebut sejak 8 Juli 2020, dan pada 25 Juli 2020, 17.979 rumah tangga (63.645 orang) terkena dampak di distrik Melavi saja. Selain itu, banjir menggenangi 11.675 rumah, berkisar antara 0,5 hingga 1,3 meter. Menanggapi dampak masif dan cakupan banjir, Bupati Melawi mengumumkan tahap tanggap darurat untuk kabupaten tersebut mulai 10 hingga 24 Juli 2020.

Pada awal Agustus 2020, banjir telah surut di sebagian besar wilayah. Namun, dari 13 hingga 14 Agustus, hujan lebat kembali melanda wilayah yang sama, memicu tanah longsor dan banjir bandang di sekitar Kecamatan Pino Celaton. Selama beberapa hari situasinya membaik, jumlah desa yang masih terendam banjir berkurang dan bantuan dan bantuan tersedia untuk semua desa yang terkena dampak. Namun, pada 6 September 2020, hujan deras kembali menyebabkan banjir di distrik Melavi. Saat itu, ketinggian banjir mencapai 3 – 6 meter, yang tergolong banjir terparah dalam 32 tahun terakhir. Banjir mempengaruhi 84.293 orang dan membanjiri 17.767 rumah di sepuluh kecamatan di kabupaten Melawi. Banjir yang berlangsung selama 3 minggu tersebut mengakibatkan aktivitas tanggap darurat dan rutinitas harian terhenti oleh banjir tersebut. Pada 24 September 2020, banjir mulai surut di seluruh kecamatan. Berbagai organisasi seperti PPPT, pemerintah kabupaten, tentara dan polisi melakukan operasi pembersihan pasca banjir untuk kedua kalinya dalam tiga bulan.

READ  Gunung berapi Indonesia yang menewaskan 48 orang, meletus lagi

Kabupaten Gettapang dan Chintang, Kalimantan Barat

Banjir tidak hanya mempengaruhi Kabupaten Melavi, tetapi juga Kabupaten Chintang yang dikelilingi oleh Sungai Kabuwas dan beberapa anak sungai dari Sungai Kabuwas. Banjir menggenangi 29 desa di sembilan kecamatan termasuk Serawai, Kayan Hulu dan Kayan Hilir, Tedai, Ambalau, Tempunak, Chintang, Kedungaw Hilir dan Sebak. Berdasarkan laporan, Ada 13.762 rumah tangga (diperkirakan 55.468) dan 20.693 rumah tangga. Terpengaruh di sembilan kecamatan.

Di Kabupaten Kedapang, Sungai Malay Rayak meluap, menenggelamkan 35 desa di empat kecamatan. Sekitar 3.722 rumah tangga (13.754 jiwa) dan 1.851 rumah tangga terkena dampak. Terakhir, di distrik London, 859 rumah (sekitar 4.297 orang) terkena dampak banjir. Banyak keluarga yang terkena dampak tinggal di lantai dua rumah mereka, dan rumah tanpa lantai dua ditempati sementara, dengan lantai dua di mana kerabat atau tetangga mereka dapat menampung mereka. Banjir tidak hanya menggenangi permukiman tetapi juga mempengaruhi banyak fasilitas umum seperti masjid, gereja, sekolah dan jembatan, serta taman milik masyarakat yang mempengaruhi mata pencaharian. Di Kabupaten Sangao dan Kabuas Hulu, setelah banjir surut, masyarakat mulai membersihkan rumah dan fasilitas umum lainnya.

Kecamatan Lou Utara dan Wajo, Sulawesi Selatan

Pada 13 Juli 2020, hujan deras di distrik Lou bagian utara meluap ke tiga sungai, Masamba, Robkong dan Rada, menyebabkan banjir di kecamatan Masamba, Sabang, Papunta, Papunda bagian selatan, Malanke, dan Malanke Barat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau ‘Badan Nasional Penanggulangan Bencana’ (PNPP) Per 17 Juli 2020, 30 desa di enam kecamatan di Louis Utara terkena dampak banjir. Sekitar 15.994 orang telah terpengaruh. Dari jumlah tersebut, 38 tewas, 19 luka-luka dan 15 hilang. Selain itu, lebih dari 3.627 rumah, termasuk total 14.483 orang, telah direlokasi sementara. Lebih dari separuh pengungsi ini bertempat di gedung PMI, DPRD atau gedung pemerintah. ‘DPRD’ Kantor (DBRT), dan kantor Walikota Lou Utara; Sekitar 1.440 keluarga mendirikan tempat penampungan sementara di dua ruang terbuka di desa Rada dan Mela. 17 Juli 2020, Perusahaan Listrik Indonesia atau ‘Perusahaan Listrik Negara’ (PLN) berhasil memulihkan pasokan listrik ke Louvre Utara. Sayangnya, akses ke pasokan air bersih di Louis Utara tidak terpengaruh di beberapa daerah yang terkena dampak.

READ  Perusahaan Indonesia Bukalabak 'mencari b1b dalam IPO', Berita Bisnis dan Berita Utama

Melihat tantangan tersebut, pemerintah tingkat Kabupaten Lou Utara pada awalnya mengumumkan tahap tanggap darurat dari 14 Juli hingga 12 Agustus 2020, yang kemudian diperpanjang dari 13 Agustus 2020 hingga 12 September 2020. Pada fase pasca darurat, fase pemulihan awal ditetapkan pada 12 September 2020 oleh pejabat Distrik North-Lou hingga 20 Maret 2021. Perusahaan Air Milik Negara (Perusahaan Air Minum Atau PAM) mulai bekerja memperbaiki pipa air yang rusak, namun untuk mengisi celah tersebut, proyek penjernihan air dan truk air berjalan lebih lama dari yang direncanakan semula untuk memenuhi persyaratan.

Sebelum banjir bandang, Distrik Lou Utara dibanjiri beberapa kali:

  • 17 Juni 2020: Banjir di Kecamatan Masamba, Papunda Selatan dan Malanke Barat.

  • 26 Juni 2020: Banjir di Kecamatan Masamba, Papunda Selatan dan Malanke Barat.

  • 12 Juli 2020: Banjir melanda Kecamatan Masamba, Papunda selatan dan Malanke barat.

  • 13 Juli 2020: Tingkat bahaya banjir yang ekstrim diumumkan di kecamatan Masamba, Papunda, Papunda Selatan, Sappang, Malanke dan Malanke Barat. Banjir ini tergolong banjir terparah dalam 37 tahun terakhir.

Di Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, hujan lebat menyebabkan Danau Tempe meluap dan membanjiri pemukiman penduduk sekitar hingga kedalaman 4 – 6 meter. Bendungan danau yang meluap dilaporkan telah runtuh. Sampai dengan 19 Juli 2020, ketinggian air di wilayah pemukiman belum turun yang berdampak pada sekitar 16.691 KK (50.349 jiwa). Banjir tersebut memaksa 178 KK (605 jiwa) mengungsi ke pusat pengungsian, sedangkan 123 KK (399 jiwa) dievakuasi ke rumah kerabatnya. Secara keseluruhan, 11.889 rumah rusak ringan, 2.325 rumah rusak sedang, dan sembilan rumah rusak berat akibat banjir. Banyak fasilitas umum dan peternakan di daerah itu terendam banjir. Pada awal Agustus 2020, dengan dukungan otoritas dan organisasi setempat, air banjir mulai surut dan masyarakat mulai membersihkan.

READ  Buronan Indonesia telah dideportasi dari Singapura dalam daftar merah pemberitahuan Interpol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.