Menkeu minta Jepang turunkan bea keluar barang Indonesia

JAKARTA (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Yasutoshi Nishimura untuk membahas penurunan tarif ekspor barang Indonesia.

“Saat ini produk tuna Indonesia masih dikenakan bea masuk tujuh persen, sedangkan Jepang membebaskan produk sejenis dari negara tetangga dari bea masuk. Untuk ekspor nanas dan pisang, masih ada pembatasan jumlah ekspor yang bisa difasilitasi. ” IPEF yang diadakan di Los Angeles, AS (Indo-Pacific Economic Framework) kata Hartardo di sela-sela pertemuan tingkat menteri, demikian pernyataan resmi yang dirilis pada hari Sabtu.

Ia menyampaikan komitmen Indonesia untuk aktif mengejar empat pilar IPEF, terutama pilar kedua terkait rantai pasok.

Berita terkait: Indonesia-Jepang tingkatkan kerja sama di bidang manufaktur

Hartardo berharap mendapat dukungan pengembangan dua produk strategis yaitu semi konduktor dan baterai kendaraan listrik (EV) melalui fasilitasi perdagangan dan bantuan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Mengenai ekspor tuna kalengan, Nishimura mengatakan sedang menyelesaikan negosiasi dengan kementerian terkait di negaranya dan bahwa pemerintah Jepang telah menyetujui peningkatan kuota impor. Pisang dan nanas.

“Jepang akan terus memberikan kerjasama di bidang semikonduktor, baterai EV dan pengembangan sumber daya manusia,” janjinya.

Dalam pertemuan ini, menteri Jepang juga mengajukan permintaan dalam hal ini Pembelian Besi dan baja untuk bahan baku industri Jepang dari Indonesia. Dia meminta agar prosesnya mudah dan lancar.

Terkait masalah besi dan baja, Menteri Perindustrian Agus Kumiwang Karthasasmita membahas usulan penyelesaian masalah tersebut pada sekitar pertemuan di atas., Ia mengatakan bahwa Diskusi tentang proposal untuk menyelesaikan masalah hampir selesai dan akan selesai pada akhir September 2022, Sebelum pertemuan dengan Menteri METI.

READ  Burung yang punah itu ditemukan kembali 172 tahun kemudian di Indonesia

Menteri Kartasasmitha menambahkan bahwa Indonesia juga mencari dukungan Jepang untuk mempercepat pencapaian nol emisi dengan berkolaborasi dalam teknologi inovatif seperti teknologi hidrogen dan amonia.

Berita terkait: IPEF dapat meningkatkan kerja sama ekonomi di kawasan Indo-Pasifik: Menteri

Berita terkait: Menkeu minta dukungan publik untuk pengembangan industri sawit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.