Otoritas Indonesia mencabut izin untuk mengolah lahan TDM di Kalimantan Barat

Kuala Lumpur (18 Juni): Otoritas Indonesia telah membatalkan Izin Usaha Pertanian (IUP) yang diberikan kepada PT Sawit Rezki Abadi dari TDM Bhd (PTSRA) untuk 10.000 hektar lahan yang terletak di Kota Malawi, Kalimantan Barat, yang diharapkan memiliki dampak keuangan Hingga RM3,5 juta di lokasi syuting.

Dalam file dengan Bursa Malaysia hari ini, TDM mengatakan bahwa PTSRA menerima surat pembatalan pada 11 Juni dan setelah pertimbangan dan konsultasi dengan pihak terkait, otoritas memberi tahu TDM tentang masalah tersebut.

“Keputusan untuk membatalkan IUP diambil dengan alasan bahwa properti tersebut tidak dikembangkan sejak 2015. Saat ini otoritas sedang berkonsultasi dengan penasihat hukumnya dan sedang dalam proses mengajukan banding ke Bupati Melawi,” kata kelompok itu.

Bhupati dari Malawi mengacu pada wali kotamadya Malawi.

TDM mengatakan pembatalan IUP akan berdampak finansial sebesar RM3,5 juta di seluruh grup, berdasarkan aset bersih yang terkait langsung dengan PTSRA pada 31 Desember 2020.

Namun, TDM menekankan bahwa jumlah tersebut tidak material karena mewakili kurang dari 0,5% dari total ekuitas grup.

“Tidak ada dampak operasional karena tidak ada aktivitas di lahan ini. PT Rafi Kamajaya Abadi (PTRKA) perusahaan TDM Indonesia lainnya beroperasi seperti biasa dan tidak ada dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembatalan IUP PTRA, ” dia berkata.

Menurut TDM, PTRKA adalah perusahaan utama Indonesia yang aktif dan saat ini beroperasi di 10.727 hektar perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Pinoh Utara, Kabupaten Melawi, Indonesia.

Saham TDM turun hari ini satu gigi, atau 3,85%, menjadi ditutup pada 25 sen per saham, memberikan grup kapitalisasi pasar RM422,74 juta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *