Perusahaan listrik negara Indonesia secara bertahap pensiun dari pembangkit listrik tenaga batu bara

JAKARTA (Reuters) – Indonesia, eksportir batu bara termal terbesar, berencana untuk secara bertahap pensiun dari pembangkit listrik tenaga batu bara, secara bertahap menuju netral karbon, seorang pejabat dari utilitas pemerintah negara, Pirusahan Listerik Negara (PLN), kata pada hari Kamis.

Ini adalah bagian dari ambisi PLN untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2060, kata Wakil Presiden PLN Darmawan Brasodjo, dalam audiensi yang disiarkan televisi di DPR.

Pemerintah Indonesia menargetkan 23 persen energinya dari sumber terbarukan pada tahun 2025, naik dari sekitar 11 persen tahun lalu, tetapi kemajuan proyek energi terbarukan berjalan lambat.

“Kami sedang membangun batas waktu untuk pensiun dari pembangkit listrik tenaga batu bara,” kata Darmawan.

Fase pertama akan ditutupnya tiga pembangkit listrik tenaga batu bara pada tahun 2030 dengan kapasitas gabungan 1,1 gigawatt.

Yakni Pembangkit Listrik Mwara Karang di Ibukota Jakarta, Pembangkit Listrik Tampak Loruk di Semarang, Kota terbesar di Jawa Tengah, dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Batubara di Gresik, Wilayah Regional Jawa Timur.

Darmawan mengatakan pada 2035, PLN menargetkan akan menutup pembangkit konvensional dengan total kapasitas 9 GW.

Pada tahun 2040, pembangkit listrik “superkritis” berbasis batu bara, atau yang menggunakan teknologi kurang berpolusi, akan memiliki kapasitas total 10 gigawatt untuk ditutup.

Tahap akhir penarikan batu bara akan ditutupnya pembangkit listrik tenaga batu bara “superkritis” pada tahun 2056.

“Setelah itu kita akan mencapai karbon netral pada tahun 2060,” kata Darmawan.

Negara terpadat keempat di dunia ini memiliki lebih dari 400 gigawatt kapasitas potensial untuk sumber-sumber seperti tenaga air, matahari dan energi panas bumi, tetapi hanya sekitar 2,5 persen yang telah digunakan pada tahun 2020, menurut data pemerintah.

READ  Hyundai dan Kia melaporkan pertumbuhan penjualan yang kuat di Vietnam dan Indonesia pada semester pertama | Bisnis

Terlepas dari tekanan untuk konsumsi energi yang lebih ramah lingkungan, Presiden Joko Widodo mendesak para menteri tahun lalu untuk mempercepat rencana pembangunan pabrik guna memodernisasi sektor batubara negara.

(Dilindungi oleh Bernadette Christina Munth; tulisan oleh Fateh Ongku; diedit oleh Martin Beatty)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.