Rencana Tesla untuk membangun pabrik di Indonesia gagal

SINGAPURA, 25 Maret (The Straits Times/ANN): Raksasa energi bersih Tesla tidak akan membangun pabrik di Indonesia di mana negosiasi dengan pemerintah gagal, antara lain, dalam hal penyediaan bahan baku untuk membuat pembangkit listrik.

Ini menurut dua pejabat pemerintah Indonesia yang berbicara secara terpisah dengan Straits Times, dengan syarat anonim.

Email yang dikirim ke Tesla tidak dijawab.

Pejabat senior Indonesia, termasuk Nick Widyawati, yang mengepalai perusahaan minyak negara Indonesia, sebelumnya mengatakan bahwa Tesla ingin mendirikan pabrik untuk memproduksi sistem penyimpanan energi, peralatan portabel yang dapat menyimpan puluhan megawatt listrik untuk ditempatkan di daerah terpencil. .

Pada Februari 2021, pemerintah Indonesia mengonfirmasi telah menerima surat penawaran dari Tesla, menambahkan bahwa pihaknya sangat antusias untuk bekerja sama dengan perusahaan yang didukung oleh teknologi baterai lithium yang termasuk yang terbaik di dunia.

Pada tanggal 15 September, sebuah konsorsium yang dipimpin oleh LG Energy Solution Korea Selatan, anak perusahaan LG Chem, meletakkan batu pertama untuk pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik senilai US$1,1 miliar (S$1,5 miliar) di Karawang, Jawa Barat, yang akan memiliki yang pertama Kapasitasnya 10 gigawatt-jam dan akan diperluas secara bertahap hingga mencapai 30 gigawatt-jam.

Sementara itu, perusahaan Cina kontemporer Amperex Technology (CATL) telah berkomitmen untuk menghabiskan sekitar US$5 miliar pada 2023, dan US$15 miliar hingga 2028 di Indonesia.

Sebuah nota kesepahaman ditandatangani antara CATL dan perusahaan negara Indonesia pada November 2020.

“Rencana ternak masih ada, tetapi ada beberapa penundaan,” kata seorang pejabat pemerintah kepada Straits Times pada 24 Maret, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

CATL adalah produsen baterai lithium-ion terbesar di dunia, sementara LG Chem adalah yang terbesar ketiga.

READ  Indonesia mempromosikan awak kapal selam yang hilang yang diduga tewas

Indonesia, yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, ingin mengembangkan rantai pasokan lengkap untuk sumber daya ini, mulai dari mengekstrak bahan kimia baterai dan membuat baterai hingga memproduksi kendaraan listrik.

Pada peluncuran kendaraan listrik rakitan lokal pertama di Indonesia, Hyundai 5, pada 16 Maret lalu, Presiden Joko Widodo mencatat bahwa negara ini kaya akan sumber daya alam.

Ia mengatakan, “Kami memiliki nikel dan kobalt sebagai bahan dasar pembuatan baterai lithium dan bauksit yang dapat diolah menjadi aluminium dan selanjutnya digunakan untuk membuat ban mobil listrik, serta tembaga yang dibutuhkan baterai dan baterai. mobil.” – The Straits Times / ANN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.