‘Saya Tidak Anti Game dan Gadget Modern’: Aktivis Bandung Ingin Lindungi Permainan Tradisional Anak Indonesia

Penelitiannya membawanya ke Belanda, di mana ia menemukan foto-foto, dokumen-dokumen dan buku-buku oleh pejabat dan ilmuwan kolonial Belanda, tidak hanya mengacu pada permainan yang masih ada sampai sekarang, tetapi juga permainan yang telah dilupakan.

Dia pergi ke Vatikan untuk memeriksa dokumen yang disimpan oleh para imam Katolik dan ke Inggris untuk mencari arsip yang dikumpulkan oleh Inggris.

Ketika menjadi Letnan Gubernur Inggris di Jawa dari tahun 1811 hingga 1816, ada catatan dan referensi permainan tradisional yang disusun antara tahun 1818 dan 1824 di bawah komando Stamford Raffles di provinsi Bengkulu, sekarang Indonesia.

Alif mengatakan penelitiannya menunjukkan bahwa 30 hingga 40 persen permainan tradisional yang disebutkan dalam buku dan manuskrip itu hilang.

“Kami hanya bisa menebak bagaimana mereka bermain,” katanya.

Melibatkan orang

Setelah dua dasawarsa meneliti olahraga tradisional di Indonesia, Alif yang kini berprofesi sebagai desainer dan dosen ini semakin bertekad untuk memperkenalkan kembali permainan ini kepada masyarakat luas.

Dia memulainya dengan mengajari anak-anak di lingkungannya cara memainkan permainan ini.

“Karena mereka terbiasa bermain dengan mainan dan video game modern, game-game ini baru dan mengasyikkan bagi mereka, dan menyenangkan,” katanya.

Namun Alif mengatakan melibatkan orang tua – yang menurutnya penting dalam memastikan permainan dan nilai-nilai mereka tetap terjaga – tidak akan mudah.

“Sulit. Mereka bertanya: ‘Mengapa orang dewasa harus memainkan permainan anak-anak ini?’ Butuh waktu lama untuk meyakinkan mereka,” lanjutnya.

READ  Angkatan Laut Indonesia melaporkan hilangnya satu kapal selam yang menewaskan 53 orang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *