KabarTotabuan.com

Memperbarui berita utama dari sumber Indonesia dan global

Mengapa Akun Media Palsu Tidak Bisa Mengatasi Kekurangan Media Lokal Indonesia
Top News

Mengapa Akun Media Palsu Tidak Bisa Mengatasi Kekurangan Media Lokal Indonesia

Penulis: Muhammad Beni Saputra, ANU

Pada tahun 2023, Indonesia disibukkan dengan konflik antara pemuda dan elite lokal. Konflik pertama terjadi antara Bima Yutho Saputro, mahasiswa S1 asal Australia, dan Arenal Junaidi, Gubernur Provinsi Lampung. Pertarungan kedua pun terjadi Provinsi JambiSyarifah Fadiyah Alkaff, siswa SMP sekaligus Wali Kota Jambi, Syarif Fasha.

Meskipun liputan media lokal terbatas, kedua kasus lokal ini menjadi sensasi nasional Media sosial Saluran seperti TIK tok. Bhima dan Chiarifa menggunakan platform tersebut untuk mengkritik para pemimpin yang mereka anggap korup.

Kegagalan media lokal—yang terdiri dari media arus utama dan berita lokal yang beroperasi di wilayah Indonesia, media tradisional, dan pendatang baru yang hanya online—disebabkan oleh keterlibatan elit politik lokal. Itu Jumlah media di Indonesia Jumlah ini tumbuh secara eksponensial setelah jatuhnya mantan Presiden Suharto pada tahun 1998, dan mencapai 47.000 gerai pada tahun 2018. Namun media lokal telah gagal menjadi pilar keempat demokrasi yang efektif atau dalam mengamati kekuatan politik.

Di tahun-tahun awal reformasi zaman, banyak Elit lokal dibeli atau dipasang Koran lokal Untuk mendukung pencalonan mereka dalam pemilihan badan lokal. Akibat digitalisasi, jumlah surat kabar lokal di Indonesia mengalami stagnasi. Beberapa orang yang selamat Ditarik lebih dekat Kepada pemerintah daerah dan politisi untuk mendapatkan uang baru.

Contoh kerja sama media yang mendalam yang dilakukan oleh elit lokal terlihat dalam kasus di Provinsi Riau pada bulan Maret 2023. Para awak media terlihat berlibur ke luar negeri bersama elite provinsi tersebut. Terlepas dari cerita ini Terkena Dengan akun media palsu, hal ini hanya mendapat sedikit perhatian di media lokal. Meski sulit memverifikasi keabsahan berita tersebut, frekuensinya tinggi di kalangan pejabat media lokal Pertemuan menimbulkan kekhawatiran yang wajar di kalangan elit lokal.

READ  Ekspor tekstil Kamboja ke Indonesia mencatat pertumbuhan yang stabil

Meskipun sebagian besar media lokal dikendalikan oleh pihak yang berkuasa, hanya sedikit yang memilih menjadi pengawas. Namun keputusan untuk mengkritik elit lokal biasanya tidak didorong oleh motif yang murni untuk menyampaikan hal tersebut Jurnal Kepentingan Umum. Gerai-gerai lokal seringkali mengambil posisi kritis karena mereka tidak mendapat cukup porsi dari pemerintah daerah atau karena tidak mempunyai pengaruh. Karyawan organisasi media ini sebagian besar menggunakan media Mereka memeras uang dari pejabat pemerintahMulai dari gubernur hingga kepala desa.

Banyaknya skandal dan tuduhan korupsi yang melibatkan pemerintah daerah memberikan banyak bahan bagi ‘media arus utama’ untuk dieksploitasi sebagai imbalan atas insentif ekonomi. Terkadang media lokal membawakan berita-berita penting, namun hal ini biasanya terjadi ketika berita tersebut viral di media sosial atau diberitakan oleh media nasional.

Kolusi media massa oleh pihak yang berkuasa secara politik tidak hanya menghasilkan berita buruk bagi media, namun juga memperkuat persepsi bahwa jurnalis tidak dapat dipercaya. Hal ini berkontribusi pada tumbuhnya akun media palsu seperti ini Perida Gelisah Dan Barday Sosmet Di media sosial. Akun-akun ini menyebarkan ‘pesan’ terutama untuk tujuan ekonomi, yang dapat ditemukan di profil mereka, yang biasanya mengiklankan bahwa mereka terbuka untuk mendapatkan dukungan berbayar.

Meskipun ada banyak administrator yang mengoperasikan akun tersebut kelangkaan Keterampilan atau sertifikasi jurnalisme yang membuat mereka terlibat lebih aktif dibandingkan profil media lokal. Mereka juga terus menerima video Hal ini mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kurangnya pemberitaan investigatif oleh media lokal dari masyarakat yang menyoroti permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat umum Indonesia.

Keberadaan dan popularitas akun media palsu a Suatu hal yang sangat memprihatinkan Untuk media lokal. Akun media palsu ini mengambil berita langsung dari situs media tradisional, terkadang menyalin dan menempelkan berita.

READ  Tim U-17 Indonesia memberikan penghormatan khusus kepada Palestina

Fenomena viral yang mengekspos para pemimpin daerah di Indonesia atas korupsi atau perilaku buruk mereka di media sosial jelas merupakan kegagalan peran media sebagai penjaga demokrasi. Namun munculnya akun media palsu yang menggantikan media lokal merupakan solusi yang problematis. Laporan-laporan ini sering kali tidak memenuhi standar jurnalistik atau tidak memiliki kerangka etika yang menjadi pedoman.

Oportunisme ekonomi dari akun media palsu memberi politisi lokal lebih banyak pilihan untuk memasukkan suara-suara kritis. Di seluruh wilayah Indonesia, hanya ada sedikit pemimpin lokal Mencoba untuk bergabung Menurut banyak pihak, beberapa dari upaya ini sudah ada berbuah.

Pemerintah Indonesia harus mengatur akun media palsu. Penyebaran berita di media sosial harus dilarang baik mereka mencarinya sendiri atau mengambilnya dari situs media lokal. Jika mereka menerbitkan ulang kontennya, mereka harus membayar media lokal.

Penting juga bagi media lokal untuk menemukan cara untuk mempertahankan aktivitas mereka yang tidak bergantung pada uang pemerintah daerah. Menyediakan jurnalisme berkualitas tinggi dengan standar etika yang tinggi dan mencari sumber pendanaan alternatif seperti langganan atau crowdfunding harus menjadi prioritas utama.

Pemerintah harus memastikan bahwa hanya media yang diverifikasi oleh badan pers nasional (Dewan Pers) diizinkan untuk beroperasi. Menyiapkan outlet media lokal itu mudah dan bebas biaya Dewan Pers Sertifikat validasi akan beroperasi secara mandiri di seluruh wilayah Indonesia.

Tanpa upaya-upaya ini, masyarakat Indonesia yang tinggal di negara-negara pinggiran dan keempat akan terus dirugikan Pilar kelima Demokrasi bekerja untuk kelompok elite, bukan untuk mereka.

Muhammad Beni Saputra adalah mahasiswa PhD di ANU College of Asia and the Pacific, Australian National University.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

"Pemikir jahat. Sarjana musik. Komunikator yang ramah hipster. Penggila bacon. Penggemar internet amatir. Introvert."