Kenaikan PPN yang diusulkan Indonesia menjauh dari bisnis

JAKARTA – Komunitas bisnis Indonesia telah memperingatkan bahwa tarif pajak yang lebih tinggi dapat memangkas pemulihan ekonomi baru setelah empat kontraksi triwulanan berturut-turut karena Indonesia menganggap kenaikan pajak untuk mengimbangi pengeluaran insentif yang dipicu oleh epidemi.

Kementerian Keuangan sedang mempertimbangkan dua opsi untuk menaikkan pajak pertambahan nilai: menaikkan tarif dewan saat ini, atau menerapkan tarif terpisah untuk berbagai jenis barang dan mengurangi kenaikan makanan dan persyaratan lainnya. Kementerian mengharapkan perubahan itu berlaku tahun depan.

Opsi PPN adalah bagian dari paket perubahan pajak yang diusulkan yang bertujuan untuk mengatasi defisit anggaran yang membengkak karena Indonesia menghabiskan banyak uang untuk mengeluarkan ekonomi dari bahan bakar virus korona. Negara itu menganggarkan 695 triliun rupee ($ 48,6 miliar) tahun lalu untuk rencana pemulihan ekonomi nasionalnya, memperluas defisit fiskal menjadi 6,09% dari PDB, tiga kali lipat dari ukuran 2019.

Pelaku bisnis Indonesia sangat menentang kenaikan pajak tersebut karena prospek ekonomi di negara dengan jumlah kasus virus corona tertinggi di Asia Tenggara itu tidak pasti.

Ada kekhawatiran bahwa pajak yang lebih tinggi bisa menjadi penghalang belanja konsumen.

Roy Monde, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, mendesak pemerintah mempertimbangkan tindakannya dengan lebih cermat. “Kebijakan ini perlu digali lebih dalam.”

Shinto Widjaja Kamdani, wakil presiden Apinto, mengatakan: “Kami juga khawatir kebijakan ini dapat mempengaruhi sentimen masyarakat untuk meningkatkan konsumsi dalam jangka pendek, yang dapat mempengaruhi kemajuan pemulihan ekonomi atau memakan waktu terlalu lama.”

Menteri Keuangan Shri Mulyani Indira Gandhi telah menyerukan kenaikan PPN sebagai cara untuk mendatangkan pendapatan guna mengatasi situasi keuangan negara yang sulit.

Sementara Indonesia berada dalam resesi, PDB telah turun selama empat kuartal berturut-turut, penurunan paling lambat pada kuartal pertama tahun 2021, dan defisit fiskal sebagai bagian dari PDB diperkirakan akan turun sedikit menjadi 5,7% tahun ini.

READ  Umat ‚Äč‚ÄčKristen Indonesia menggesek buku teks Islam

Pada Maret 2020, Presiden Joko Widodo untuk sementara melonggarkan aturan pembatasan defisit PDB 3%, yang diperkirakan membutuhkan stimulus yang lebih besar. Perpindahan tersebut hanya akan berlangsung hingga tahun depan, ketika batas tersebut akan kembali pada tahun 2023.

Para pejabat mengkhawatirkan risiko inflasi. Jika defisit tidak kembali normal pada tahun 2023, investor akan kehilangan kepercayaan pada utang pemerintah, yang akan mendorong harga lebih tinggi daripada kenaikan PPN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *